Konsep Ilmu Sebagai Tacit Knowledge Menurut Michael Polanyi dan Implikasinya Terhadap Metode Bandongan di Pesantren
DOI:
https://doi.org/10.51700/attadbir.v6i2.1730Kata Kunci:
Kata kunci: tacit knowledge, epistemologi ilmu, metode bandongan, PesantrenAbstrak
Penelitian ini mengkaji konsep tacit knowledge menurut Michael Polanyi serta implikasinya terhadap metode bandongan di pesantren. Kajian ini dilatarbelakangi oleh dominasi paradigma ilmu eksplisit dalam pendidikan modern yang cenderung mengabaikan dimensi pengalaman dan relasi personal dalam proses belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis filosofis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep tacit knowledge, yang menekankan bahwa pengetahuan tidak sepenuhnya dapat diungkapkan secara verbal, memiliki kesesuaian dengan metode bandongan. Dalam praktiknya, bandongan tidak hanya mentransmisikan ilmu secara tekstual, tetapi juga melalui aspek implisit seperti intonasi, penekanan makna, dan relasi antara kyai dan santri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode bandongan memiliki legitimasi epistemologis sebagai bentuk pembelajaran berbasis tacit knowledge dan relevan untuk dikembangkan dalam sistem pendidikan yang lebih holistik.
Unduhan
Referensi
Alavi, M., & Leidner, D. E. (2001). Review: Knowledge management and knowledge management systems: Conceptual foundations and research issues. MIS Quarterly, 25(1), 107–136. https://doi.org/10.2307/3250961
Azra, A. (2019). Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III. Jakarta: Kencana.
Creswell, J. W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (4th ed.). Sage Publications.
Gadamer, H.-G. (2004). Truth and Method (2nd rev. ed.). Continuum.
Huda, M. (2020). Epistemologi pendidikan Islam: Integrasi antara wahyu dan akal. Jurnal Pendidikan Islam, 6(2), 145–160. https://doi.org/10.14421/jpi.2020.62.145-160
Latif, Y. (2018). Pendidikan yang Berkebudayaan: Historis, Konseptual, dan Praktis. Gramedia.
Mulyadi, S. (2021). Transformasi pendidikan pesantren di era digital. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 26(3), 233–245. https://doi.org/10.24832/jpnk.v26i3.1897
Nonaka, I., & Takeuchi, H. (1995). The Knowledge-Creating Company. Oxford University Press.
Nuryana, Z. (2019). Inovasi pendidikan Islam dalam menghadapi era revolusi industri 4.0. Jurnal Pendidikan Islam, 5(1), 77–94. https://doi.org/10.14421/jpi.2019.51.77-94
Polanyi, M. (1966). The Tacit Dimension. University of Chicago Press.
Rahman, F. (2017). Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. University of Chicago Press.
Sa’diyah, H. (2022). Metode pembelajaran bandongan dalam perspektif pedagogi modern. Jurnal Pendidikan Pesantren, 4(1), 55–70. https://doi.org/10.35878/jpp.v4i1.412
Senge, P. M. (2006). The Fifth Discipline. Doubleday.
Setiawan, A. (2023). Tacit knowledge dalam pembelajaran berbasis pengalaman. Jurnal Ilmu Pendidikan, 29(2), 112–125. https://doi.org/10.17977/jip.v29i2.16845
Suharto, T. (2019). Pesantren dan perubahan sosial. Jurnal Sosiologi Pendidikan Islam, 3(2), 89–104. https://doi.org/10.14421/jspi.2019.32.89-104
Wahid, A. (2018). Pesantren sebagai Subkultur Pendidikan Islam. LKiS.
Yusuf, M. (2021). Relasi kyai dan santri dalam transmisi ilmu di pesantren. Jurnal Studi Islam, 12(1), 33–48. https://doi.org/10.5281/zenodo.4567890
##submission.downloads##
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Moh Riski Kohar

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



